Jumat, 13 September 2013

Aku dan Teman ^^


Teman : aku punya beberapa pertanyaan dan jawabannya adalah apa yang pertama kali kamu pikirkan. Siap ?
Aku : siap !
Teman : menurutmu, apa arti dari nama Hilyatun Nurlailiyah ?
Aku : Hiasan cahaya malam.
Teman : apakah dirimu sesuai dengan arti nama itu ?
Aku : jawaban itu ada padamu.
Teman : apa hal terindah dalam hidupmu ?
Aku : Hujan. Karna hujan selalu berikan kita harapan baru. Sahabat paling nyaman , God’s paint is in the sky…
Teman : kamu percaya Tuhan ?
Aku : Ya. Aku percaya pada Tuhan.
Teman : kamu percaya tentang apa yang ditakdirkan Tuhan ?
Aku : Ya. Aku memang tidak bisa mengubah arah mata angin. Tetapi, aku bisa belajar mengubah arah layar perahuku.
Teman : apakah kamu pernah memimpikan hidup lebih bahagia ?
Aku : aku sudah bahagia selama satu tahun ini, dan itu bukan mimpi.
Teman :menurutmu, siapakah yang disebut pemimpi ?
Aku : pemimpi justru seorang realis tapi berada di tengah masyarakat yang abstrak.
Teman : apakah kamu takut sengsara ?
Aku : untuk apa aku menakuti hal yang pernah aku alami ?
Teman : apa hal yang paling kamu takuti dalam hidup ?
Aku : kesepian dan menjadi sesuatu yang Nggak berguna.
Teman : kepada siapa kamu mencintai ?
Aku : pada mereka yang membutuhkan cinta.
Teman : Jodoh dan takdir, kau tau ?
Aku : Jodoh. Jodoh harus diperjuangkan agar menjadi takdir. Jodoh Cuma setengah dari takdir. Maka, carilah takdir, bukan cari jodoh. Jodoh itu pilihan, termasuk mempertahankannya atau melepaskannya dengan persetujuan dari Tuhan. Sedangkan takdir adalah hak prerogatif Tuhan yang tidak dapat diganggu gugat. Apa yang ada pada Tuhan akan diberikan kepada mereka yang menjemput, yaitu mereka yang meminta dan berusaha. Karena jangan lupa, ketika Tuhan menciptakan sesuatu, Ia juga menciptakan takdirnya. Itulah mengapa banyak dari mereka yang akhirnya berpisah karena mereka meminta jodoh, bukan meminta takdir mereka.
Teman : jodoh harus diperjuangkan agar menjadi takdir. Beruntunglah aku yang tidak tau kemudian tau daripada mereka yang tau tapi pura-pura tidak mengetahuinya. Aku akan selalu mengingat itu.
Aku : Iya.
Teman: Menurutmu, apa arti hari-hari yang selama ini kamu jalani ? 
Aku      : Bagiku, pagi hari adalah waktunya memulai, siang hari adalah waktunya berproses, dan malam    hari adalah waktunya berterima kasih.
Teman : Pada siapa kamu berterima kasih ?
Aku       : Pada kehidupan…
Teman : Lalu ?
Aku  : Pada udara… dan yang terakhir, pada Tuhan.
Teman      : Kenapa Tuhan yang terakhir ?
Aku : Karena semua yang ada di bumi akan berpulang pada-Nya.


Minggu, 08 September 2013

Selagi kau lelap


Sekarang pukul 01.30 pagi di tempatmu.

Kulit wajahmu pasti sedang terlipat di antara kerutan bantal. Rambutmu yang tebal menumpuk di sisi kanan, karena engkau tidur tertelungkup dengan muka menghadap ke sisi kiri. Tanganmu selalu tampak menggapai, apakah itu yang selalu kau cari di bawah bantal?

Aku selalu ingin mencuri waktumu. menyita perhatianmu. Semata-mata supaya aku bisa terpilin masuk ke dalam lipatan seprei tempat tubuhmu sekarang berbaring.

Sudah hampir tiga tahun aku begini. Dua puluh delapan bulan. Kalikan tiga puluh. Kalikan dua puluh empat. Kalikan enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Niscaya akan kau dapatkan angka ini: 4.354.560.000

Itulah banyaknya milisekon sejak pertama aku jatuh cinta padamu. Angka itu bisa lebih fantastis kalau ditarik sampai skala nano. Silakan cek. Dan aku berani jamin engkau masih ada di situ. Di tiap inti detik dan di dalamnya lagi, dan lagi, dan lagi.

Penunjuk waktuku tak perlu mahal-mahal. Memandangmu memberikanku sensasi keabadian sekaligus mortalitas. Rolex tak mampu berikan itu.


Mengertilah, tulisan ini bukan bertujuan untuk merayu. Kejujuran sudah seperti riasan wajah yang menor, tak terbayang menambahinya lagi dengan rayuan. Angka miliaran tadi adalah fakta matematis. Empiris. Siapa bilang cinta tidak bisa logis. Cinta mampu merambah dimensi angka dan rasa sekaligus.

Sekarang pukul 02.30 di tempatmu. Tak terasa sudah satu jam aku di sini. Menyumbangkan lagi 216.000 milisekon ke dalam rekening waktuku. Terima kasih. Aku semakin kaya saja. Andaikan bisa kutambahkan satuan rupiah, atau lebih baik lagi, dolar, di belakangnya. Tapi engkau tak ternilai. Engkau adalah pangkal, ujung, dan segalanya yang di tengah-tengah. Sensasi ilahi. Tidak dolar, tak juga yen, mampu menyajikannya.

Aku tak pernah terlalu tahu keadaan tempat tidurmu. Bukan aku yang sering ada disitu. Entah siapa. Mungkin cuma guling atau bantal-bantak ekstra. Terkadang benda-benda mati justru mendapatkan apa yang paling kita inginkan, dan tak sanggup kita bersaing dengannya. Aku iri pada baju tidurmu, handukmu, apalagi pada guling…sudah. Stop. Aku tak sanggup melanjutkan. Membayangkannya saja ngeri. Apa rasanya dipeluk dan didekap tanpa pretensi? Itulah surga. Dan manusia perlu beribadah jungkir-balik untuk mendapatkannya? Hidup memang bagaikan mengitari Gunung Sinai. Tak diizinkan kita untuk berjalan lurus-lurus saja demi mencapai Tanah Perjanjian.

Kini, izinkan aku tidur. Menyusulmu ke alam abstrak di mana segalanya bisa bertemu. Pastikan kau ada di sana, tidak terbangun karena ingin pipis, atau mimpi buruk. Tunggu aku.
Begitu banyak yang ingin kubicarakan. Mari kita piknik, mandi susu, potong tumpeng, main pasir, adu jangkrik, balap karung, melipat kertas, naik getek, tarik tambang…tak ada yang tak bisa kita lakukan, bukan? Tapi kalau boleh memilih satu: aku ingin mimpi tidur di sebelahmu. Ada tanganku di bawah bantal, tempat jemarimu menggapai-gapai.

Tidurku meringkuk ke sebelah kanan sehingga wajah kita berhadapan. Dan ketika matamu terbuka nanti, ada aku di sana. Rambutku yang berdiri liar dan wajahmu yang tercetak kerut seprai.

"Tiada yang lebih indah dari cinta dua orang di pagi hari. Dengan muka berkilap, bau keringat, gigi bermentega, dan mulut asam…mereka masih berani tersenyum dan saling menyapa ’selamat pagi’."

(from Filosofi Kopi-Dee)

Senin, 12 Agustus 2013

Atas Nama Hati, Maafkan Aku


#Aku: Rindu ini untuk siapa?
Kepala: Itu bukan bagianku untuk menjawab.
#Aku: Baiklah. Lalu, cinta ini untuk siapa?
Kepala: Itu juga bukan bagianku untuk menjawab.
#Aku: Ah. Mengapa?
Kepala: Karena urusanku adalah urusan pemikiran. Urusan logika. Sementara urusan perasaan adalah urusan hati. Tanyalah pada si bodoh itu.
#Aku: Bodoh?
Kepala: Benar. Dia memang bodoh, bukan? Selain bodoh, dia juga seorang pembangkang.
#Aku: Bagaimana bisa?
Kepala: Begini. Berapa kali dia sudah kunasehati agar berhenti bekerja ketika kau dilukai, tapi dia terus saja melakukannya? Berapa kali?
#Aku: Berkali-kali! Tapi bukankah itu tugasnya?
Kepala: Ah, sama saja kau dengan dia. Susah diberitahu yang benar!
#Aku: Aku tahu. Tapi aku tak berdaya. Lalu, mengapa kau sebut dia bodoh?
Kepala: Karena dia mempermalukan dirinya sendiri. Bukan hanya itu, dia juga membuatmu dan membuatku terlihat sama bodohnya dengan dia.
#Aku: Atas nama hati, maafkan aku.
Kepala: Buat apa kau meminta maaf atas namanya? Lagipula, ini bukan salahmu!
#Aku: Jadi aku harus bagaimana?
Kepala: Berhenti menjadi pencinta yang bodoh.
#Aku: Tapi kata orang, kalau tidak bodoh itu bukan cinta?
Kepala: Itu kan cintanya orang-orang bodoh...
#Aku: Atau kau yang terlalu pandai untuk kami berdua - aku dan hati?
Kepala: Aku bukannya pandai, tapi aku mencintai kalian. Aku ada di saat kalian butuh juru selamat.
#Aku: Bagaimana jika kami sendiri yang tidak ingin diselamatkan?
Kepala: Nah! Apa kataku tadi? Kalian berdua memang bodoh!
#Aku: Kami tidak bodoh! Kami hanya tidak ingin diselamatkan!
Kepala: Kalau begitu, jangan hiraukan aku lagi. Berhenti bertanya dan berbicara denganku.
#Aku: Kau marah?
Kepala: Tidak, aku bukannya marah. Aku putus asa.
#Aku: Jadi, apakah aku harus membunuh hati?
Kepala: JANGAN! Karena tanpanya, kau tak memerlukanku...
#Aku: Hubungan yang sulit...
Kepala: Aku tahu, aku tahu.
#Aku: Bagaimanapun, terima kasih, kepala. Karena kau tidak pernah bosan untuk menegur kami.
Kepala: Terima kasih, aku. Karena ada kalanya kau masih ingin mendengarkanku.
#Aku: Kita teman kan?
Kepala: Bukan. Kita sahabat. Dan aku sahabatmu yang paling jujur.
#Aku: Ah.
Kepala: Aku ada bahkan ketika kau merasa terganggu dengan kehadiranku.
#Aku: Ah.
Kepala: Maafkan aku.
#Aku: Tak ada yang perlu dimaafkan.
Kepala: Ada.
#Aku: Apa?
Kepala: Kerasionalitasanku.
#Aku: Itu hal yang buruk?
Kepala: Menurutmu sendiri bagaimana?

#Aku: sudahlah.. kita sama ingin tenang, bukan ?

Minggu, 11 Agustus 2013

Sederhana :)

 Bila kelak dibolehkan tua dan kriput, aku mau seperti ini denganmu. Seseorang yang Tuhan berikan untuk melengkapiku. J


“Bagian dari satu khayalan dalam otak yang berebut keluar lewat do’a dengan segera, sampai-sampai aku harus menuliskannya dan membacakannya kelak padamu, tepat di saat bulan penuh, dan kita akan memandanginya lewat jendela dengan segelas kopi pahit kesukaanmu, kita tertawa lalu menangis dalam bahagia yang sempurna. Melihat masa lalu, sambil bergumam “Tuhan maha Indah, sayang”. Cukup.”
Dan mari kembali dengarkan aku baik-baik
Saat nanti turun hujan, dan kamu tak disini aku akan menuliskan sajak begini.

“Dancing slowly in an empty room, can the lonely take the place of you ?
I sing myself a quiet luliaby
Let you go and let the lonely in to take my heart again.
Broken pieces of a barely breathing story
Where there once was love…
Now, there’s only me and the lonely”
(Thebahagia’stumblr)

Karna aku akan rindu, kamu harus tau itu.
Masa dimana kita masih muda, dalam kenang yang dalam dan indah.
Satu kali dalam hidup, untuk cinta yang selalu diperbaharui hari demi hari, hanya untukku.


Sederhana. 

Sabtu, 10 Agustus 2013

Tidurlah ...

Tidur, Rebahkan tubuhmu.

Tidur, Redamlah amarahmu.

Menyusuri relung kota, memerah tenaga,
Melambungkan asa, sebuah masa depan cerah.
Kenyataan tak selalu sama dengan harapan.
Suka dan luka setia menyapamu, bergantian.
Terkadang memberi bibir berhiaskan senyuman.
Kadang memberi hatimu merah meradang.

Tidur,
Syukuri senangmu, rayakan pedihmu.
Dua hal yang menjadi permata hidupmu.
Memberi arti pada setiap detail harimu.

Esok, gantungkan lagi asa, setinggi kau bias.
Seperti aku, mengamini untuk hal yang sama.

 kita  :)


#Thebahagias :)


Jumat, 09 Agustus 2013

Aku Kuat dengan caraku :)

 Aku akan menuliskannya begini, saat mata tak mampu lagi menatap cermin didepan, samping dan belakang, aku bahkan merasa amat takut dengan bayangan. Yang aku tau, aku masih boleh berharap sekalipun sisa do’a ini aku habiskan sendirian. Terpuruk, terabaikan, atau sudahlah… mari dengarkan aku bercerita sebentar saja… aku janji.
Satu. Keyakinan terkuat bahwa Tuhan selalu bersama dengan perempuan baik J
            Ku tersadar hari ini, aku tersadar dan berlari menjauh.. Tetapi ada sesuatu yang menarikku kembali. Suara yg mengatakan alasan yang aku lupakan Yang ku tahu adalah bahwa kau tak dsini untuk berkata.. apa yang biasanya selalu kau katakan tetapi semua itu tertulis di langit malam ini.
Maka aku tak akan menyerah aku tak akan patah semangat, hidup berubah lebih cepat dari yang kita perkirakan dan aku akan menjadi lebih kuat , sekalipun semuanya tak sesuai rencana
tak jadi soal apapun kata orang, tak jadi soal betapapun lamanya.. percayalah pada dirimu sendiri,
dan ikutilah kata hatimu..

Tak ada alasan untuk menyerah. Jangan biarkan impianmu di rampas orang.
Libatkan kekuatan Tuhan.. dan beradalah dalam kepasrahan yang sempurna.... karena kau sudah berikan usaha yang terbaik, sikap yang terbaik, kata-kata terbaik, dan doa yang terbaik.

Dan, selesai… aku punya Tuhan pada intinya.
Yang tak buta, tak tuli, tak bodoh.
Ia yang jadi tumpuan dari banyak beban hidupku, yang jadi teman untuk menjali cerita selanjutnya, aku tak boleh cengeng, tak boleh menyerah, tak boleh tak boleh, Titik.
Dan percayalah, Cinta Tuhan takkan pernah menyesatkan J
Aku mencintaiMu, tanpa pamrih dan tanpa Beban.




Sabtu, 03 Agustus 2013

Nggak ada kepastian buat apapun :)

“Dalam hidup Nggak ada jaminan putus bahagia, Nggak ada kepastian buat apapun.
Setiap orang bisa terlempar jauh dari kotak rasa nyamannya, secara tiba-tiba.”
                Kita memang hidup dalam sekat-sekat, pemetakan, pelabelan, dan saat label dicabut, kita bukan siapa-siapa lagi. Tuhan nggak pernah buru-buru,, Ia selalu tepat waktu. Itu saja, jadi obat penenang di saat tak ditemukan di apotek manapun obat berbentuk kapsul, bubuk atau semacamnya sebagai obat penenang paling ampuh. Believe it.
Sekarangpun, saat kita merasa Nggak ada harapan untuk terus berharap dalam hal sama seperti yang lalu, toh pada akhirnya harus mengelus dada sendiri, mengingat betapa yang namanya “kenyataan” Nggak bisa kita terima dengan senang hati. Tapi dalam hidup juga nggak ada jaminan untuk terus bahagia, perlu ingat itu.
                Kita ada dalam jaring-jaring yang namanya “Taqdir” Tuhan, bagaimanapun mau menolak, kita harus tetap melaluinya dengan satu demi satu, nggak mungkin langsung lompat pada bagian dimana kita merasa lebih nyaman dengan jalan lain. Sekalipun kita merasa dengan jatuh cinta kita utuh sebagai diri-sendiri. Ngomongin cinta dan paket bahagia plus sakit hati, nggak di jual terpisah.
Atas hal-hal yang nggak mampu di terima akal, kita memang harus menggunakan hati sekali-kali, untuk mengerti, untuk menerima jatah yang barangkali terasa seperti tamparan keras berkali-kali, atau tak jarang selayak hantu, dan merasa baru saja bangun dari mimpi paling buruk sepanjang malam. Ini yang sering disebut “sakit hati”. Dan saat begini, yang dibutuhkan adalah tertawa lepas, membuang jauh-jauh masalah sebesar apapun. Dan segera menyadari Tuhan kita lebih besar, walaupun sulit masih menerima. Ikhlas itu berat, tapi wajib. Katanya J selain ketabahan, apalagi yang mampu diajarkan kehilangan? Kurasa menghargai kehadiran lebih awal. Absurd lagi-lagi. Setidaknya dengan mencintainya kita belajar kesabaran.
Perlu kita tau, saat kita merasa nggak ada lagi harapan, kita seperti mambanting pintu di depan Tuhan. Tak jarang nyaris kita di buat gila, ah.. betapa kekuatan cinta amat berpengaruh pada kesehatan jiwa.