Minggu, 24 Juni 2012

Ibu


IBU
Dulu kau bercerita nyanyian purba
Dibawah kepulan asap dupa dan mantra yang menggerus selayak kerut didahimu
pagi yang masih buta di halaman
Dengan secangkir kopi pahit menjadi ciri khasmu
Sebelum memulai bercerita leluhur kita
Atau tentang 270 hari lebih kau mengandungku dalam sakit yang sangat
Wajahmu sumringah tiap kali sampai pada kisah tua
Saat kau pertaruhkan nyawa untuk melahirkanku dari rahim surgamu
Menyapihku dalam lesu yang berkepanjangan
Sungguh kasihmu tak berpamrih,ibu
Desah buih serupa lenguhmu yang tinggal satu-satu
Wajah sepuhmu seolah bercerita berat beban dipundakmu
Hingga tak ada jeda rahasia untukku, anakmu
Aku hanya bisa memandang polos kerut keletihan di galur-galur telapak tanganmu.
 Sambil lalu memijiti kakimu yang lesu sisa kerja seharian
ibu
Beribu rindu kujelmakan puisi untukmu
Kini, tinggal kenangan basah pada perkabungan sakral
Diatas hujan bulan mei
Ruhmu terbang meninggalkan sisa arang
Setelah kau direnggut kematian yang sederhana
Riuh jemaahpun menjelma air mata
Bebayang tawadhu’mu yang pecah jadi mosaik
Dari perca-perca cinta Tuhan
ibu
Tak cukup separuh milenia untuk mengenang perjuangan mu
Biar berbelas purnama telah lalu
Namun engkau tetap seharum melati-melati basah
Bersama gemuruh tasbih di segala penjuru
Untuk mu perempuan perkasa sepanjang masa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar