Rabu, 11 Februari 2015

UntukMu, Yang maha Segalanya

I was so far from You, yet to me You are always so close.I wondered lost in the dark…
Telah berkali-kali aku pergi jauh, merentang jarak seluas-luasnya. Bermain serapih mungkin agar kelihatan seolah-olah aku lupa, padahal memang sengaja. Pergi sejauh mungkin hingga akhirnya tersesat sendiri. Hilang arah. Tak sadar bahwa aku memang tak mahir membaca peta.
I closed my eyes toward the signs You put in my way. I walked everyday further and further away from You…
Kau membantuku setiap saat, tapi aku tak pernah (ingin) peduli. Aku jadi jarang mengaji. Mataku tak lagi kuat menghafal ayat. Bahkan tak jarang kutinggalkan shalat hanya demi sibukku yang nyatanya semu. Aku leburkan diriku dalam kesesatan yang sungguh nyata. Kian hari aku kian menutup mata dariMu, hingga kesesatanku semakin jauh.
I never thought about all the things You have given to me.I never thanked You once…I was too proud to see the truth, and prostrate to You.
Aku selalu dapatkan segala yang kubutuhkan. Kuterima semua kesempatan terbaik untuk hidupku tanpa perlu bersusah payah. Aku ingin ke sana ke mari, lalu kutemukan jalan tanpa hambatan. Aku ingin ini itu, lalu berbagai kemudahan berebut menghampiriku. Sekali waktu aku terluka, seribu orang bergegas datang, mengulurkan tangan tanpa harus kuminta. Aku semakin bangga dengan ke-aku-anku. Seringkali, rasa sombong itu datang. Aku merasa hebat. Hidup terasa mudah. Aku memiliki segalanya, tapi aku tak jua berterima kasih. Aku, si kufur nikmat paling hebat.
Until I took the first step, and that’s when You opened the doors for me.Now, Allah, I realized what I was missing by being far from You.
Tapi semakin hari justru aku merasa semakin tidak bahagia. Aku merasa kosong; kehampaan yang ganjil. Aku mulai berpikir untuk berbalik badan, berputar arah. Menapak kembali jalan yang sempat kulalui dengan penuh kesombongan. Sebaik-baik tempat adalah kembali, Nak, maka jika kau telah pergi terlalu jauh namun segalanya kian terasa kosong, kembalilah… Pulanglah tanpa keraguan. Nasihat seorang guru yang kurasa telah kulupakan, tiba-tiba kembali berputar dalam pikiran. Aku kembali pulang, Allah. Sepanjang jalan aku berpikir panjang. Tiba-tiba aku merasa malu kepadaMu. Aku telah pergi begitu jauh, tapi Kau tetap erat mendekap. Aku telah melupakanMu dengan kurang ajar, Kau tetap sayangi aku hingga ke akar.
Allah, I wanna thank You.I wanna thank You for all the things that You have done…You’ve done for me through all my years I’ve been lost.You guided me from all the ways that were wrongand did You give me hope…
Allah, terima kasih… Terima kasih untuk segala jalan yang Kautunjukkan. Terima kasih untuk semua kemudahan yang Kautitipkan. Terima kasih untuk setiap bentuk perlindungan yang Kauberikan. Terima kasih untuk penjagaanMu yang tak pernah putus. Terima kasih untuk semua yang telah dan yang akan. Terima kasih untuk semuanya, Allah; untuk segalanya.
Terima kasih untuk segala yang istimewa, juga yang sederhana. Terima kasih sebab Kau lindungi aku dari berbagai jenis luka; dari setiap ingin yang tak perlu, dari segala angan yang sia-sia. Terima kasih karena Kau tak pernah tinggalkan aku sendirian, kau pertemukan aku dengan orang-orang yang sungguh baik. Kaupeluk aku dari jauh, Kausayangi aku dengan berbagai cara; melalui semua pertolongan dan tiap-tiap kebaikan dari mereka yang tak pernah kusangka-sangka.
Terima kasih juga sebab Kau telah menjaga shalat-shalatku. Kautahu bahwa adzan saja kadang tak mempan bagiku, lalu Kau selalu berikan aku rasa kebelet pipis yang maha dahsyat di tiap-tiap waktu shalat, sehingga mau tak mau, suka tak suka, aku harus berjalan ke toilet. Setan masih mengganggu, tentu saja, berbisik bahwa aku tak usah shalat, bahwa betapa kesibukanku itu jauh lebih penting, dan betapa Kau begitu pemaaf, misalnya. Tapi seolah Kauberikan pula setelahnya sebuah tekad yang kuat dalam pikiranku: jangan sampai setan tersenyum puas karena keinginannya kupenuhi. Terima kasih, Allah…terima kasih untuk semua dan segala.
Terima kasih juga untuk segala tebakan yang seringkali benar; untuk segala yang tiba-tiba hadir di kepala, untuk berbagai firasat yang memudahkanku melewati segalanya. Terima kasih untuk semua yang selalu.

I wanna thank You for bringing me home…
Surat ini untukmu, Allah. Terima kasih telah menuntunku pulang. Semoga terus Kaudekap aku erat dalam kasih sayangMu.
Aku mencintaiMu, Allah. Aku mencintaiMu, sungguh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar